Selasa, 09 April 2013

model konsep kurikulum, model pengembangan kurikulum







pengertian Model konsep kurikulum, pengertian Model Pengembangan Kurikulum
BAB II
PEMBAHASAN
A.       Model Konsep Kurikulum
Model konsep kurikulum sangat mewarnai pendekatan yang diambil dalam pengembangan kurikulum. Sebagai kajian teoritis, model konsep kurikulum merupakan dasar untuk pengembangan kurikulum. atau dengan kata lain,  pendekatan pengembangan kurikulum didasarkan atas konsep-konsep kurikulum yang ada.
            Model konep kurikulum sangat berkaitan dengan aliran pendidikan yang dianut. Aliran pendidikan dapat dibedakan menjidi empat,yaitu:
1.      Pendidikan klasik, yang menggunakan model konsep kurikulum subjek akademis,
2.      Pendidikan pribadi, yang menggunakan model konsep kurikulum humanistik,
3.      Teknologi pendidikan, yang menggunakan kurukulum teknologi, dan
4.      Pendidikan interaksionis, yang menggunakan model konsep kurikulum rekonstruksi sosial.

            Sampai saat ini banyak model kurikulum yang telah di kembangkan oleh para ahli. Pada makalah ini akan kami  kaji empat macam model konsep kurikulum berdasarkan  pada urutan kajian paling tradisional sampai pada kajian yang diangguap cukup modern.
1.             Kurikulum Subjek Akademis
Kurikulum subjek akademis merupakan salah satu model kurikulum yang paling tua yang banyak digunakan di berbagai negara. Sesuai dengan namanya, kurikulum model ini sangat mengutamakan isi (subject matter). Isi kurikulum merupakan kumpuan dari bahan ajar atau rencana pembelajaran. Tingkat pencapaian atau penguasan peserta didik terhadap materi merupakan ukuran utama dalam menilai keberhasilan belajar siswa. Oleh karena itu, penguasaan materi sebanyak-banyaknya merupakan salah satu hal yang diprioritaskan dalam kegiatan belajar mengajar oleh guru yang menggunakan kurikulum jenis ini.
Ditinjau dari isinya, Sukmadinata (2005:84) mengklasifikasikan kurikulum model ini menjadi empat kelompok besar.
a)    Correlated currikulum.
Kurikulum ini menekankan pentingnya hubungan antara organisasi materi atau konsep yang dipelajari dari satu pelajaran dengan pelajaran yang lain, tanpa menghilangkan perbedaan esensia dari setiap mata pelajaran. Dengan menghubungkan beberapa bahan tersebut, cakupan ruang lingkup materi semakin luas. Kurikulum ini didesain berdasarkan pada konsep pedagogis dan psikologis yang dipelopori oleh Hearbat dengan teori asosiasi yang menekankan pada dua hal, yaitu konsentrasi dan korelasi (Ahmad:1998,131). Sebagai ilustrasi sederhana, setiap orang pernah mendapatkan konsep 2 x 50, yang jika dihitung menghasilkan 100. Hal ini bisa dihubungkan dengan contoh dalam kehidupan sehari-hari.
 b).  Unified atau Concentrated Currikulum.
Sesuai dengan namanya, kurikulum jenis ini sangat kental dengan disiplin ilmu. Setiap disiplin ilmu dibangun dari berbagai tema pelajaran. Pola organisasi bahan dalam suatu pelajaran disusun dalam tema-tema dalam pelajaran tertentu. Salah satu aplikasi kurkulum saat ini terdapat pada pembelajaran yang sifatnya tematik. Dari satu tema yang diajukan misalnya ”lingkungan“ selanjutnya dikaji dari berbagai disiplin ilmu misalnya, sain, matematika, sosial dan bahasa.
 c).   Integrated Currikuum.
Pola organisasi kurikulum ini memperhatikan warna disiplin ilmu. Bahan ajar diintegrasikan menjadi satu keseluruhan yang disajikan dalam bentuk satuan unit. Dalam satu unit terdapat hubungan antara pelajaran serta berbagai kegiatan siswa. Dengan keterpaduan bahan pelajaran tersebut diharapkan siswa mempunyai pemahaman materi secara utuh. Oleh karena itu, inti yang diajarkan kepada siswa harus memenuhi kebutuhan hidup dilingkungan masyarakat. Ahmad (1998,39) mempunyai ciri-ciri kurikulum ini sebagai berikut.
  1. Unit haruslah merupakan satu kesatuan yang bulat dari seluruh bahan pelajaran.
  2. Unit didasarkan pada kebutuhan anak, baik yang pribadi maupun sosial serta yang bersifat jasmani maupun ohani.
  3. Unit memuat kegitan yang berhubungan dengan kehidipan sehari-hari.
  4. Unit merupakan motifasi sehingga anak dapat berkreasi.
  5. Pelaksanaan unit sering memerlukan waktu yang cukup lama. Hal ini disebabkan percobaan atau perolehan pengalaman yan membutuhkan waktu yang lama.
 d).    Problem Solving Currikulum.
Hal ini berisi tentang pemecahan masalah yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan pengetahuan serta keterampilan dari berbagai disiplin ilmu.
Pada kurikulum model ini guru cenderung dimaknai sebagai seseorang yang harus “ digugu “ dan “ ditiru “. Menurut Idi (200:126), ada empat cara dalam menyajikan pelajaran dari kurikulum dengan model subjek akademis.
  1. Materi disampaikan secara hierarkhi naik, yaitu materi disampaikan dari yang lebih mudah hingga ke materi yang lebih sulit. Sebagai contoh, dalam pengajaran pada jenjang kelas yang rendah diperlukan alat bantu mengajar yang masih kongkret. Hal ini dilakukan guna membentuk konsep riil ke konsep yang lebih abstrak pada jenjang beriikutnya.
  2. Penyajian dilakukan berdasarkan prasyarat. Untuk memahami suatu konsep tertentu diperlukan pemahaman konsep lain yang telah diperolehatau dikuasai sebelumnya.
  3. Pendekatan yang dilakukan cenderung induktif, yaitu disampaikan dari hal-hal yang bersifat umum menuju kepada bagian-bagian yang lebih spesifik.
  4. Urutan penyajian bersifat kronologis. Penyajian materi selalu diawali dengan menggunakan matari-materi tedahulu. Hal ini dilakukan agar sifat kronologis atau urutan materi tidak terputus.
Tujuan dan sifat mata pelajaran merupakan dua hal yang mempengaruhi model evaluasi kurikulum subjek akademis (Sukmadinata, 2005:85). Ilmu yang termasuk kategori ilmu-ilmu alam mempunyai model evaluasi yang berbeda dengan ilmu-ilmu sosial.
Kurikulum ini bersumber pada pendidikan klasik. Konsep pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa seluruh warisan budaya yaitu, pengetahuan, idi-ide, atau nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir terdahulu. Pendidikan berfungsi untuk memelihara, mengawetkan dan meneruskan budaya tersebut kepada genersi berikutnya, sehingga kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan. Oleh karenanya kurikulum ini lebih bersifat intelektual.
 2.     Kurikulum Humanistik.
Sesuai dengan namanya kurikulum humanistik lebih mengedepankan sifat humanisme dalam pembelajaran. Hal ini dilakukan sebagai reaksi terhadap kurikulun yang terlalu mengedepankan intelektualitas. Kurikulum model humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanistik, diantaranya adalah Neal (1977).
Kurikulum humanistik didasarkan pada aliran pendidikan humanisme atau pribadi. Aliran pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa peserta didik adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan. Peserta didik adalah subjek yang menjadi pusat kegiatan pendidikan, yang mempunyai potensi, kemampuan, dan kekuatan untuk berkembang.
Prioritas pendekatan ini adalah pengalaman belajar yang diarahkan terhadap tanggapan minat, kebutuhan, dan kemampuan siswa. Pendekatan ini berpusat pada siswa dan mengutamakan perkembangan unsur efeksi. Pendidikan ini diarahkan kepada pembina manusia yang utuh, bukan saja segi fisik dan intelektual, tetapi juga segi sosial dan afeksi (emosi, sikap, perasaan, nilai, dan lain-lain). Hal ini mendatangakan bahwa pendekatan ini berpegang pada prinsip peserta didik merupakan satu kesatuan yang menyeluruh. Pendidikan lebih menekankan bagaimana mengajar siswa (mendorong siswa), dan bagaimana merasakan atau bersikap terhadap sesuatu.
Penganut model kurikulum ini beranggapan bahwa siswa merupakan subjek utama yang mempunyai potensi, kemampuan dan kekuatan yang dikembangkan. Hal ini sejalan dengan teori Gestalt yang mengatakan bahwa individu atau anak merupakan satu kesatuan yang menyeluruh (Sukmadinata:2005,86).
Pendidikan yang menggunakan kurikulun ini selalu mengedepankan peran siswa di sekolah. Dengan situasi seperti ini, anak diharapkan mampu mengembangkan segala potensi yang dimilikinya pendidikan dianggap sebagai proses yang dinamis serta maerupakan upaya yang mampu mendorong siswa untuk bisa mengembangkan potensi dirinya. Karena itu, seseorang yang telah mampu mengaktualisasilan diri adalah orang yang telah mencapai keseimbangan perkembanagan diri dari aspek kognitif, estetika, dan moral.
Kurikulum humanistik merupakan kurikulun yang lebih mementingkan proses daripada hasil. Sasaran utama kurikulum jenis ini adalah bagaimana memaksimalkan perkembangan anak supaya menjadi manusia yang yang mandiri. Proses belajar yang baik adalah aktivitas yang mampu memberikan pengalaman yang bisa membantu siswa untuk menembangkan potensinya. Dalam evaluasi guru lebih cenderung memberikan penilaian yang bersifat subjektif.
Sukmadinata (2005:87) mengklasifikasikan pendidikan humanistik menjadi 3 macam yaitu:
  1. Pendidikan konfluen.
  2. Pendidikan kritikisme radikal.
  3. Mistikisme modern.
Dari ketiga aliran tersebut akhirnya berkembang tiga macam jenis kurikulum sesuai dengan konsep dasar yang dianut oleh aliran tersebut.
Ahli pendidikan konfluen berupaya menyatukan segi efektif dn kognitif dalam kurikulum. Pendidikan harus mampu memperoses secara utuh kedua aspek tersebut. Dasar dari kurikulum ini adalah teori Gestalt yang menekankan keutuhan dan kesatuan secara keseluruhan. Ada lima hal yang mencirikan kurikulum konfuensi, yaitu partisifasi, integrasi, relavasi, pribadi anak dan tujuan.
Isi pendidikan dalam model konfluen ini diambil dari dunia siswa sehingga sesuai dengan kebutuhan pribadi anak. Hal ini disebabkan pendidikan merupakan satu kegiatan yang bersifat pengembangan pribadi atau aktualisasi segala potensi setta pribadi secara utuh. Pengembangan pribadi yang utuh merupakan tujuan utama dari pendidikan ini.
Aliran pendidikan kritikisme radikal memandang pendidikan sebagai upaya untuk membantu anak dalam menemukan dan mengembangkan sendiri segala potensi dirinya. Dengan hal ini upaya peningkatan pengembangan dirinya bisa belajar secara optima. Proses pendidikan cenderung dilakukan secara demokratis dan tidak ada pemaksaan. Pemberian rangsangan atau dorongan ke arah perkembangan merupakan dua hal yang diutamakan.
Langkah-langkah penyusunan urutan kegiatan dalam pengajaran yang besifat efektif menurut Shiflett (1975 dalam sukmadinata, 1997) adalah sebagai berikut:
  1. Menyusun kegiatan yang dapat memunculkan sikap, minat, atau perhatian tertentu.
  2. Memperkenalkan bahan-bahan yang akan dibahas dalam setiap kegiatan. Di dalamnya tercakup topik-topik, bahan, serta kegiatan belajar yang akan membantu peserta dalam merumuskan apa yang akan mereka pelajari.
  3. Pelaksanaan kegiatan, para peserta diberi pengalaman yang menyenangkan baik yang berupa gerakan-gerakan maupun penghayatan.
  4. Penyempurnaan, pembahasan hasil-hasil yang telah dicapai, penyempurnaan hasil serta upaya tindak lanjut.
Evaluasi dalam kurikulum ini mengutamakan proses dinandingkan dengan hasil. Karena itu, dalam kurikulum humanistik tidak ada kreteria pencapaian karena sasarannya adalah perkembangan peserta didik supaya menjadi manusia yang terbuka, lebih berdiri sendiri. Penilaiannya bersifat objektif.


 3.    Kurikulum Rekontruksi Sosial
Sesuai dengan namanya, kurikulum ini memiliki hubungan dengan kegiatan kemasyarakatan yang di dalamnya terdapat kegiatan interaksi. Kurikulum ini dikembangkan oleh aliran interaksional. Pakar di bidang ini berpendapat bahwa pendidikan merupakan upaya bersama dari berbagai pihak untuk menumbuhkan adanya interaksi dan kerja sama.
Tujuan utama kurikulum jenis ini adalah mempersiapkan peserta didik untuk dapat menghadapi tantangan, termasuk di dalamnya ancaman dan hambatan. Tantangan dianggap sebagai bidang garapan salah satu disiplin ilmu, namun perlu juga di dekati dengan ilmu-ilmu lain.
Dalam praktiknya, perancang kurikulum terkonstruksi sosial selalu berusaha menyelaraskan antara tujuan nasiaonal dengan tujuan siswa. Kerjasama antarindividu maupun kelompok merupakan kegiatan yang sangat dominan dalam pengajaran yang menggunakan kurikulum jenis ini. Dengan demikian, kompetisi antarindividu maupun kelompok bukan hal yang diprioritaskan.
Ahli kurikulum yang berorientasi pada kemajuan di masa yang akan datang menyarankan pentingnya kurikulum yang difokukan pada hal yang terkait dengan kehidupan sosial kemasyarakatan.
Kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan interaksional, yang bertolak dari pemikiran manusia sebagai mahluk sosial. Pendidikan sebagai salah satu bentuk kehidupan berintikan kerjasama dan interaksi. Dengan demikian, kurikulum ini lebih memusatkan perhatian pada problem-problem yang dihadapi masyarakat.
Tujuan dan isi kurikulum ini setiap tahun bisa berubah, tergantung dari perubahan masyarakat. Dalam pemilihan metode guru berusaha membantu para siswa menemukan minat dan kebutuhannya. Dalam kegiatan evaluasi siswa dilibatkan, terutama dalam memilih, menyusun, dan menilai bahan yang akan diujikan.
 4.    Kurikulum Teknologis
            Terdapat korelasi yang positif antara ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ilmu pengetahuan akan berdampak positif terhadap teknologi yang dihasilkan. Demikian pula sebaliknya, kemajuan teknologi juga berpengaruh besar terhadap perkembangan model konsep kurikulum.
Sukmadinata (2005:97) menyatakan bahwa ciri-ciri kurikulum teknologis dapat ditemukan pada empat bagian yaitu pada tujuan, metode, organisasi bahan, dan evaluasi.
Ciri-ciri kurikulum teknologis antara lain:
  1. Tujuan diarahkan pada penguasaan kompetensi, yang dirumuskan dalam bentuk perilaku hasil belajar yang dapat diukur. Tujuan yang masih bersifat umum dijabarkan menjadi tujuan-tujuan yang lebih kecil (tujuan khusus), yang di dalamnya terkandung aspek kognitif, afektif maupun psikomotor.
  2. Metode pengajaran bersifat individual. Setiap siswa menghadapi tugas sesuai dengan kecepatan masing-masing.
  3. Bahan ajar atau isi kurikulum banyak diambil dari  disiplin ilmu, tetapi telah diramu sedemikian rupa sehingga mendukung penguasaan sesuatu kompetensi. Bahan ajar yang besar disusun dari bahan ajar yang lebih kecil dengan memperhatikan urutan-urutan penyajian materi dalam pengorganisasiannya.
  4. Evaluasi dilakukan kapan saja. Ketika siswa telah mempelajari suatu topik/subtopik, ia dapat mengajukan diri untuk dievaluasi. Fungsi evaluasi ini antara lain sebagai umpan balik: bagi siswa dalam penyempurnaan penguasaan suatu satuan pelajaran (formatif), bagi program semester (sumatif), serta bagi guru dan pengembang kurikulum. Bentuk evaluasi umumnya obyektif tes.
Seperti halnya model yang lain, model kurikulum ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Program pengajaran yang menggunakan alat-alat yang berbau teknologi, khususnya teknologi terbaru, secara umum lebih menyenangkan dan terkesan up to date. Dari sisi pelaksanaannya, program pengajaran ini sangat mengedepankan efisiensi dan efektivitas. Dengan model pengajaran seperti ini, standar penguasaan siswa jauh lebih tinggi dibandingkan dengan model-model lain.
Model kurikulum teknologis dikembangkan berdasarkan pemikiran teknologi pendidikan. Model ini sangat mengutamakan pembentukan dan penguasaan kompetensi, dan bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya dan ilmu seperti pada pendidikan  klasik. Model kurikulum teknolgi berorientasi pada masa sekarang dan yang akan datang, sedangkan pendidikan klasik berorientasi pada masa lalu. Kurikulum ini juga menekankan pada isi kurikulum. Suatu kompetensi yang besar diuraikan menjadi kompetensi yang lebih kecil sehingga akhirnya menjadi perilaku-perilaku yang dapat diamati atau diukur.
B.     Model Pengembangan Kurikulum
Terdapat banyak model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli. Sukmadinata (2005:161) menyebutkan delapan model pengembangan kurikulum dan kemudian Idi (2007:50) menglasifikasikannya ke dalam dua grup besar model pengembangan kurikulum yaitu model Zais dan model Roger. Berikut uraiannya :


 A.    Model Zais
Robert S. Zais adalah ahli kurikulum yang banyak melontarkan ide-ide sekitar tahun 1987. Model pengembangan yang dapat dikategorikan dalam model Zais, antara lain :
1.      Model Administrasi (the administrative)
Merupakan model pengembangan kurikulum paling lama yang sering juga disebut sebagai model garis dan staf. Pemberian mana ini banyak muncul dari pejabat yang berwenang (administrator pendidikan), yang terdiri dari pengawas, kepala sekolah, dan staf pengajar inti dan bertugas merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan, dan strategi dalam pengembangan kurikulum (Sukmadinata, 2005:162). Kurikulum ini memerlukan kegiatan pantauan dan bimbingan di lapangan, oleh sebab itu tim membentuk kelompok kerja yang menyusun tujuan khusus pendidikan, garis besar bahan pengajaran, dan kegiatan belajar (Ahmad, 1988:54). Kemudian hasil kerja dikaji ulang dengan melakukan uji coba untuk mengetahui keefektifan dan kelayakannya, selain itu dilakukan evaluasi untuk menentukan validitas komponen-komponen yang ada dalam kurikulum . Hasil penilaian tersebut merupakan umpan balik bagi semua unsur terkait, khususnya instansi pendidikan di tingkat pusat, daerah dan sekolah.
 2.      Model Grass Roots (the grass roots)
Merupakan lawan dari model sebelumnya, yang dikenal juga sebagai model desentralisasi karena inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum bukan berasal dari atas, melainkan dari bawah yaitu guru dan sekolah. Kepala sekolah sebagai pimpinan tim administrasi, juga bisa membantu guru dalam membantu guru dalam pengembangan kurikulum model ini. Pengembangan kurikulum ini sangat tergantung pada kerja sama guru-guru, guru-kepala sekolah, dan antar sekolah. Pengembangan model kurikulum ini memungkinkan terjadinya kompetisi antarsekolah, kelompok sekolah, bahkan pada tingkat daerah.
3. Model Terbalik
Secara umum model kurikulum dikembangkan secara deduktif, tetapi Taba mengembangkan kurikulum secara induktif, oleh karena itu dinamakan model terbalik. Pengembangan model ini diawali dengan melakukan percobaan dan penyusunan teori dan diikuti dengan tahapan implementasi untuk mempertemukan teori dan praktek. Sukmadinata (2005:166) dan Ahmad (1998:57) merangkum lima langkah dasar dalam pengembangan kurikulum model Taba.
1.      Mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru
Diawali dengan mendiagnosis kebutuhan dan dilanjutkan dengan merumuskan tujuan, guna mempertimbangkan keseimbangan antara kedalaman serta keluasan materi yang akan disusun.
2.      Menguji unit eksperimen
Tujuan dari uji coba unit adalah untuk melihat kelayakan serta validitas unit-unit dalam pengajaran, hasil ini digunakan untuk mengetahui layak atau tidak suatu unit diimplementasikan.
3.      Mengadakan revisi dan konsolidasi
Dilakukan jika hasil pada langkah kedua menunjukkan perlunya perbaikan dan penyempurnaan unit0unit yang telah disusun.
4.      Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum
Bila proses penyempurnaan telah dilakukan secara menyeluruh maka selanjutnya mengkaji kerangka kurikulum yang dilakukan oleh para ahli kurikulum dan profesional lainnya.  
5.      Melakukan implementasi dan desiminasi
Merupakan langkah terakhir yang berarti telah siap pakai untuk wilayah yang lebih luas (desiminasi).
4.  Model Pemecahan Masalah
Dikenal dengan nama action research model. Kurikulum model ini sudah melibatkan seluruh komponen pendidikan yang meliputi siswa, orang tua, guru, serta sistem sekolah. Sukmadinata (2005:169) menyebutkan ada dua langkah dalam penyusunan kurikulum jenis ini :
  1. Melakukan kajian tentang data-data yang dikumpulkan sebagai bahan penyusunan kurikulum, data yang dikumpulkan hendaknya valid dan riabel agar dapat digunakan sebagai dasar yang kuat karena data yang lemah akan mengakibatkan kesalahan dalam pengambilan keputusan.
  2. Melakukan implementasi atas keputusan yang dihasilkan pada langkah pertama. Dari proses ini akan diperoleh data-data (informasi) baru yang dimanfaatkan untuk mengefaluasimasalah-masalah yang muncul di lapangan sebagai tindak lanjut untuk memperbaiki kurikulum.
 B.     Model Rogers
Seorang ahli psikologi memberi warna cukup kuat dalam pengembangan model kurikulum. Ada empat model yang dikembangkan oleh Roger, yang merupakan perbaikan dari model sebelumnya.
1.      Model I
Merupakan model yang paling sederhana, dapat dilihat dari kegiatan yang ditawarkan yaitu pembelajaran (pemberian informasi) dan ujian. Model ini dikembangkan berdasarkan  asumsi bahwa pendidikan merupakan kegiatan penyampaian informasi yang diakhiri dengan kegiatan evaluasi.


Materi pengajaran
 



Evaluasi
 
           
            Dapat dilihat dari gambar di atas, bahwa kegiatan pendidikan semata-mata terdiri dari kegiatan memberi informasi (isi pelajaran) dan ujian. Asumsi yang dipakai yaitu pendidikan adalah evaluasi dan evaluasi adalah pendidikan. Dalam model ini siswa sebagai objek yang pasif, sedangkan guru sebagai subjek yang aktif yang mempunyai peran lebih dominan.
  1. Model II
Model pengembanagan kurikulum ini beranjak dari dua pertanyaan sebelummnya dan dua pertanyaaan tambahan berikutnya.
a)                  Metode apa yang anda gunakan dalam mengajarkan mata pelajaran ?
b)                  Bagaimana anda mengorganiasikan bahan pelajaran ?          
Dengan menambahkan komponen metode mengajar dan organisasi bahan, maka terlihat bahwa model pengembangan kurikulum II semakin baik dan lengkap. Metode yang efektif dan penataran bahan pelajaran sistematis (dari mudah ke sukar, dari kongkret ke abstrak, dst) telah dilakukan. Seperti pada gambar berikut.


Materi Mengajar
 

Evaluasi
 

Bahan Pelajaran
 

     Organisasi  Bahan pelajaran
 





3.      Model III

      Metode Mengajar
 
Tidak puas dengan model kedua ini,rogerpun memunculkan model III dengan menambahkan dukungan bahan ajar yang meliputi buku-buku dan media pengajaran. Berikut gambar model III.



Teknologi Pendidikan
 

   Organisasi bahan pelajaran
 

              Evaluai
 

    Bahan Pelajaran
 





  1. Model IV
Pada model IV disertakan komponen penting dalam dalam keseluruhan pendidikan yaitu tujuan yang menjadi arah pendidikan dan pengajaran yang mengikat semua komponen yang telah disebutkan sebelumnya termasuk teknologi yang digunakan. Secara lengkap model yang dikembangkan Roger dalam gambar berikut.













Organisasi Bahan
 


Bahan Pelajaran
 

Evaluasi
 
 









C.      PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Pada prinsipnya pengembangan krikulum berkisar pada pengembangan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi yang diimbangi dengan perkembangan pendidikan. Pendekatan pengembangan kurikulum sangat bergantung dari orientasi yang digunakan. Untuk itu sebelum mempelajari berbagai pendekatan pengembangan kurikulum, perlu kita lihat juga orientasi kurikulum. Hal ini disebabkan karena disamping prinsip pengembangan, suatu kurikulum pendidikan dikembangkan dengan berbagai orientasi.
a.      Orientasi Kurikulum
Umumnya orientasi kurikulum dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu orientasi pada bahan pengajaran, orientasi pada tujuan, dan orientasi pada kegiatan belajar mengajar.
1.      Orientasi pada Bahan Pelajaran
Orientasi pengembangan kurikulm ini sangat menitik beratkan pada bahan atau materi yang diajarkan, sedangkan tujuan dapat ditentukan berdasarkan bahan pelajaran.Pertimbangan yang digunakan dalam menentukan materi yang harus diajarkan kepada siswa adalah  :

1)      Pentingnya bahan
2)      Manfaat dan Relevani dengan kebutuhan masyarakat
Kelebihan dari orientasi ini terletak pada kebebasan dan keluwesan dalam memilih dan menentukan materi pelajaran karena tidak terikat oleh tujuan-tujuan tertentu. Sedangkan kelemahannya ialah:
1)      Bahan pelajaran kurang jelas arah dan tujuannya.
2)      Tidak jelas dasar pemilihan dalam menentukan metode
3)      Tidak jelas apa yang akan dinilai
 2. Orientasi Pada Tujuan
Pengembangan kurikulum yang berorientasi pada tujuan berdasarkan pada tujuan-tujuan pendidikan yang telah dirumuskan secara jelas dari tujuan nasional sampai tujuan instruksional. Dari tujuan inilah kemudian ditetapkan bahan pelajaran.
Tantangan penggunaan orientasi ini adalah kesulitan dalam merumuskan tujuan. Sementara itu, kelebihan terletak pada:
1)      Tujuan yang dicapai sudah jelas dan tegas
2)      Mudah dalam penilaian
3)      Memudahkan pengembangan kurikulum untuk mengadakan perbaikan-perbaikan atau perubahan penyesuaian yang diperlukan.
 3. Orientasi Pada Kegiatan Belajar Mengajar
Pengembangan kurikulum yang berorientasi pada kegiatan belajar mengajar menitik beratkan pada bagaimana siswa belajar, serta cara dan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan agar siswa menguasai keterampilan untuk mendapatkan pengetahuan. Kelebihan orientasi pengembangan kurikulum sangat mementingkan kebutuhan siswa. Sedangkan kelemahannya sulit diukur ketercapaian hasil belajar yang diharapkan.
D.    Pendekatan Pengembangan Kurikulum
Yang dimaksud dengan pendekatan ialah cara kerja dengan menerapkan strategi dan metode yang tepat serta langkah-langkah pengembangan yang sistematis untuk memperoleh kurikulum yang lebih baik. Idi (2007:198) mendeskripsikan beberapa pendekatan yang telah dikembangkan para ahli.
1)      Pendekatan Bidang Studi
Sebagai guru yang baik, Anda pasti memikirkan tentang bidang/mata pelajaran apa yang akan Anda sajikan saat proses belajar. Anda pasti telah mempersiapkan dengan baik pokok-pokok bahasan yang berhubungan dengan studi atau mata pelajaran yang akan Anda ajarkan. Inilah yang dimaksud dengan pendekatan bidang studi atau pendekatan mata pelajaran. Pendekatan ini biasanya membagi-bagi organisasi kurikulum berdasarkan bidang studi yang akan diajarkan, seperti Matematika, Sains, Sejarah, goegrafi, Bahasa Indonesia, IPA dan IPS (Nasution dalam Idi 2007:200).
Pendekatan kurikulum dalam pendekatan ini dilakukan dengan langkah-langkah berikut:
1.      Mengidentifikasi pokok-pokok bahasan yang akan diajarkan.
2.      Merinci berbagai pokok bahasan itu menjadi bahan-bahan pelajaran yang akan diajarkan.
3.      Mengidentifikasi dan mengurutkan pengalaman belajar serta keterampilan-keterampilan prasyarat (prerequsite) yang harus dimiliki peserta didik.
2)      Pendekatan Berorientasi Pada Tujuan
Apapun kegiatan, “tujuan” selalu mendekati posisi sentraldengan tujuan ini dapat diketahui arah dari suatu kegiatan, tidak terkecuali kegiatan pembelajaran.srbagai guru tentunya anda mempunyai tujuan dalam mendidik siswa .Tujuan inilah yang akan memeberi petunjuk ke arah mana peserta didik terebut akan di bawah.
Soebadiyah dalam Idi (2007:200) menyebutkan empat kelebihan dari kurikulum yang berorientasi pada tujuan.
1.      Memberikan kejelasan bagi penyusun kurikulum tentang apa yang ingin dicapai
2.      Memberikan arah yang jelas dalam menetapkan materi pelajaran, metode, jenis kegiatan, dan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan.
3.      Memberikan arah dalam proses penilaian terhadap hasil yang dicapai.
4.      Memanfaatkan hasil penilaian untuk membantu penyusunan kurikulum dalam melakukan perbaikan yang diperlukan.
3)      Pendekatan dengan Pola Orientasi Bahan
Pendekatan ini mencakup pola pendekatan Subject Matter Curriculum, Corelated Curriculum,dan Integrated Curriculum.
1.      Pendekatan pola mata pelajaran (Subject Matter Curriculum), yang menekankan pada pemisahan mata pelajaran menjadi beberapa bagian dimana mata pelajaran ini tidak berhubungan satu dengan yang lainnya.
2.      Pendekatan dengan pola korelasi (Corelated Curriculum), yang mengelompokkan beberapa mata pelajaran yang saling berhubungan. Idi (2006:201) menyatakan bahwa pendekatan ini dapat ditinjau dari berbagai aspek yaitu:
1)   Pendekatan Struktur
2)   Mata pelajaran IPS, misalnya terdiri dari sejarah, ekonomi dan sosiologi.
3)   Pendekatan fungsional
4)   Masalah yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari
5)   Pendekatan tempat atau daerah yang menggunakan lokasi atau tempat tertentu sebagai pokok pembicaraan
3.      Pendekatan pola integrasi (integrated curriculum), yang menerpadukan bagian-bagian menjadi keseluruhan yang mempunyai arti tertentu.. keseluruhan itu tidak hanya sekedar kumpulan dari bagian-bagian, tetapi keseluruhan yang mempunyai arti tertentu.
4)      Pendekatan Rekonstruksionalisme
Pendekatan rekontruksionalisme disebut juga rekonstruksi social karena menempatkan masalah-masalah penting yang dihadapi masyarakat, seperti polusi, ledakan penduduk, dan bencana yang diakibatkan oleh penggunaan teknologi tertentu dalam kurikulum.
Menurut Idi (2007:202) ada dua kelompok yang memiliki pandangan yang berbeda terhadap kurikulum ini. Pertama, rekontruksionalisme konservatif. Pendekatan ini menganjurkan agar pendidikan ditujukan pada peningkatan mutu kehidupan individu maupun masyarakat dengan mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling mendesak yang dihadapi masyarakat.
Kedua, rekonstruksionalisme radikal. Pendekatan ini menekankan agar pendidikan formal maipun nonformal mengabdika iri demi tercapainya tatanan sosial baru berdasarkan pembagian kekuasaan dan kekayaan yang adil dan merata.
5)      Pendekatan Humanistik
Pendekatan ini menempatkan peserta didik pada posisi sentral (student centered) dan perkembangan afektif siswa sebagai prasyarat dan merupakan bagian integral dari proses belajar. Siswa diharapkan mampu mengembangkan segala potensi yang dimiliki dengan selalu mengedepankan peran siswa di sekolah. Pengembangan proses belajar ini diarahkan untuk mengembangkan minat, kebutuhan, dan kemampuan anak (Soemantri dalam Idi, 2007:203).
6)      Pendekatan Akuntabilitas (accountability)
Sistem yang akuntabel memiliki standar dan tujuan yang spesifik serta mengukur efektivitas suatu kegiatan dengan mengukur taraf keberhasilan siswa untuk mencapai standar itu. Gerakan ini mulai drasakan manfaatnya bagi dunia pendidikan ketika sebuah universitas di Amerika Serikat dituntut untuk membuktikan keberhasilannya dalam dalam mencapai standar yang tinggi. Untuk memenuhi tuntutan itu, pengembang kurikulum mendesain tujuan pelajaran yang dapat mengukur prestasi belajar siswa.










BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Model konsep kurikulum dikembangkan oleh para ahli dikaji empat macam model konsep kurikulum berdasrakan pada urutan kajian paling tradisional sampai dengan kajian yang dianggap cukup modern yaitu kurikulum subjek akademis, humanistik, rekontroksi sosial dan teknlogis.
 Pemilihan model pengemembangan kurikulum dilakukan dengn cara menyesuaikan sistem pendidikan yang dianut dan model konsep yang digunakan seperti model administrasi, grass roots, terbalik, pemecahan masalah, dan rogers.
`     pendekatan pengembangan kurikulum dibedakan  menjadi 3 yaitu orintasi terhahadap bahan pengajaran, orientasi pada tujuan dan orientasi pada belajar mengajar.
B.     Saran
Semoga makalah ini bermanfaat untuk memperkaya dan memperluas wawasan keilmuan kita  sebagai pembaca yang haus  akan ilmu pendidikan. Marilah kita menjadikan diri yang kaya akan pendidikan agar menjadi insan-insan yang terdidik,berbudi pekerti yang baik serta dan bermoral yang berpegang teguh pada agama masing-masing.














DAFTAR PUSTAKA
Tasrif, Akib.2012.Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum SD. Makassar:Universitas Muhammadiyah Makassar
Hernawan, Susilana.2012.Pengembangan Kurikulum dan Pembeajaran. Jakarta:Universitas terbuka
http://murniasihmu.wordpress.com/2011/12/31/model-konsep-kurikulum/








`